TikTok untuk Bisnis Bisa Menjadi Tempat Orang Pertama Kali Mengenal Brand
Ada satu kebiasaan yang cukup sering kita lihat ketika sebuah brand mulai menggunakan TikTok untuk bisnis. Begitu sebuah video mendapatkan banyak views, angka tersebut langsung dianggap sebagai tanda keberhasilan. Bahkan tidak sedikit pemilik bisnis yang mulai berpikir, “Kalau bisa viral seperti ini, pasti penjualan ikut naik.”
Wajar kalau views menjadi sesuatu yang menarik perhatian. Angka jutaan views memang terlihat mengesankan dan bisa membuat sebuah brand mendapatkan perhatian dalam waktu yang sangat singkat. Namun, ada satu pertanyaan yang sering terlupakan setelah sebuah konten berhasil mendapatkan perhatian besar: setelah viral, lalu apa? Karena bagi sebuah bisnis, viral seharusnya bukan tujuan akhir.
TikTok memang bisa menjadi tempat sebuah brand mendapatkan perhatian yang sangat besar, tetapi perhatian saja belum cukup untuk membangun bisnis. Orang mungkin melihat video kita hari ini, tertawa, memberikan like, bahkan membagikannya kepada teman. Namun belum tentu mereka mengingat siapa brand di balik konten tersebut, belum tentu mereka percaya dengan produknya, dan belum tentu mereka akhirnya melakukan pembelian.
Di sinilah cara pandang terhadap TikTok perlu sedikit diubah. TikTok bukan hanya tempat mencari viral, tetapi juga bisa menjadi bagian dari perjalanan seseorang sebelum akhirnya menjadi customer.
Ketika Views Tidak Lagi Menjadi Satu-Satunya Ukuran
Bayangkan ada dua brand yang sama-sama membuat video di TikTok. Brand pertama mendapatkan satu juta views, tetapi setelah itu hampir tidak ada orang yang mencari produknya, mengikuti akun brand, atau melakukan pembelian. Brand kedua hanya mendapatkan seratus ribu views, tetapi banyak orang mulai mengenal brand tersebut, mengunjungi profilnya, bertanya tentang produk, dan akhirnya membeli.
Mana yang lebih menguntungkan? Kalau hanya melihat angka di layar, tentu satu juta views terlihat jauh lebih besar. Tetapi kalau melihatnya dari sudut pandang bisnis, jawabannya tidak sesederhana itu.
Karena views menunjukkan perhatian, bukan otomatis menunjukkan nilai bisnis.
Sebuah konten bisa mendapatkan perhatian karena lucu, kontroversial, relatable, atau kebetulan mengikuti tren yang sedang ramai. Masalahnya, perhatian tersebut belum tentu memiliki hubungan dengan produk yang kita jual.
Inilah mengapa brand perlu mulai melihat TikTok bukan hanya sebagai tempat untuk mendapatkan angka besar, tetapi sebagai media untuk membangun hubungan dengan audiens.
TikTok untuk Bisnis Bisa Menjadi Tempat Orang Pertama Kali Mengenal Brand
Salah satu kekuatan TikTok untuk bisnis adalah kemampuannya memperkenalkan sebuah brand kepada orang yang sebelumnya bahkan belum mengenalnya.
Seseorang mungkin awalnya hanya sedang scrolling untuk mencari hiburan. Kemudian mereka menemukan sebuah video tentang produk, cerita di balik sebuah bisnis, pengalaman menggunakan produk, atau konten yang terasa begitu dekat dengan masalah mereka. Mereka mungkin belum membeli. Tetapi mereka mulai mengenal.
Besoknya mereka melihat konten brand yang sama lagi. Kali ini mereka mulai memperhatikan produknya. Beberapa hari kemudian mereka melihat orang lain membicarakan brand tersebut. Perlahan, nama brand mulai terasa familiar.
Proses seperti ini mungkin tidak terlihat langsung dalam angka penjualan pada hari yang sama, tetapi justru menjadi bagian penting dalam membangun brand awareness.
Karena sebelum seseorang membeli, biasanya ada proses mengenal terlebih dahulu.
Dari Attention Menuju Trust
Setelah mendapatkan perhatian, tantangan berikutnya adalah membuat audiens memiliki alasan untuk percaya. Ini bagian yang sering dilewatkan oleh brand ketika membuat konten.
Mereka sibuk mengejar tren, mengejar views, dan mencari format yang berpotensi masuk For You Page, tetapi lupa menunjukkan mengapa seseorang harus mempercayai bisnis tersebut. Padahal TikTok memberikan ruang yang cukup besar untuk membangun hal itu.
Brand bisa menunjukkan bagaimana produk dibuat, bagaimana sebuah bisnis bekerja, siapa orang-orang di baliknya, bagaimana produk digunakan customer, bagaimana sebuah masalah diselesaikan, sampai bagaimana brand merespons ketika menghadapi kesalahan.
Konten seperti ini mungkin tidak selalu menghasilkan angka views paling besar. Namun konten tersebut bisa memberikan sesuatu yang jauh lebih penting: alasan bagi audiens untuk percaya.
Ketika digunakan dengan strategi yang tepat, TikTok untuk bisnis tidak hanya berfungsi sebagai media untuk mendapatkan views, tetapi juga sebagai ruang untuk membangun kepercayaan terhadap brand.
Dan ketika trust mulai terbentuk, hubungan antara audiens dengan brand mulai berubah. Mereka bukan lagi sekadar orang yang melihat video. Mereka mulai menjadi orang yang mempertimbangkan brand tersebut ketika membutuhkan sebuah produk atau layanan.
Konten yang Bagus Tidak Harus Selalu Menjual
Ada anggapan bahwa kalau sebuah brand sudah masuk TikTok, setiap konten harus berakhir dengan ajakan membeli. Padahal tidak semua konten harus menjual secara langsung.
Bayangkan sebuah brand fashion yang setiap hari hanya membuat video dengan pesan, “Beli sekarang, stok terbatas.” Mungkin sesekali berhasil, tetapi jika seluruh isi akun hanya berisi promosi, audiens bisa cepat merasa sedang melihat katalog berjalan.
Bandingkan dengan brand yang sesekali menunjukkan bagaimana produknya dibuat, membahas masalah yang sering dialami customer, memberikan edukasi, membagikan cerita di balik bisnis, menunjukkan proses kerja tim, atau bahkan membuat konten yang membuat audiens merasa, “Ini gue banget.”
Konten seperti itu mungkin tidak selalu langsung menghasilkan transaksi. Tetapi konten tersebut membantu membangun reason to follow. Orang punya alasan untuk tetap mengikuti akun tersebut meskipun mereka belum membeli hari ini. Dan ketika suatu hari mereka membutuhkan produk yang ditawarkan, brand tersebut sudah lebih dulu berada di dalam ingatan mereka.
TikTok dan Customer Journey
Kalau kita melihat TikTok hanya sebagai tempat mendapatkan views, perjalanan customer akan terlihat sangat pendek. Orang melihat video, lalu kita berharap mereka langsung membeli. Padahal perjalanan customer biasanya jauh lebih panjang.
Seseorang bisa pertama kali mengenal brand melalui sebuah video. Kemudian mereka melihat profilnya, membaca komentar, mencari video lain, melihat bagaimana customer lain menggunakan produknya, lalu membandingkannya dengan pilihan lain. Setelah merasa cukup yakin, barulah mereka melakukan pembelian. Artinya, TikTok bisa memainkan beberapa peran sekaligus dalam perjalanan tersebut.
Awareness ketika orang pertama kali mengenal brand.
Consideration ketika mereka mulai mencari tahu lebih banyak.
Trust ketika mereka melihat bukti, pengalaman, dan konsistensi brand.
Kemudian action ketika mereka akhirnya melakukan pembelian atau mengambil langkah berikutnya.
Karena itu, strategi TikTok untuk bisnis perlu melihat perjalanan audiens secara lebih lengkap, bukan hanya berhenti pada berapa banyak orang yang menonton sebuah video.
Pertanyaannya perlu berkembang menjadi, “Setelah orang melihat video ini, kita ingin mereka melakukan apa?”
Kalau kamu sedang membangun strategi digital secara lebih menyeluruh, TikTok juga sebaiknya tidak dipandang sebagai channel yang berdiri sendiri. Ia perlu menjadi bagian dari strategi bisnis dan marketing yang menghubungkan konten, brand, customer, hingga penjualan. Kamu bisa mengenal lebih lanjut Digimaru dan berbagai pendekatan yang digunakan untuk membantu bisnis berkembang di ekosistem digital.
Kesalahan Brand: Mengejar Viral Tanpa Menyiapkan Bisnis
Ada satu hal yang sering luput ketika sebuah konten tiba-tiba viral. Traffic bisa meningkat dengan sangat cepat. Orang mulai masuk ke profil. Pertanyaan di kolom komentar bertambah. Pesan masuk meningkat. Bahkan permintaan produk bisa datang jauh lebih banyak daripada biasanya. Kalau bisnis tidak siap, viral justru bisa menjadi masalah baru. Customer menunggu terlalu lama. Stok tidak tersedia. Admin kewalahan menjawab pesan. Pengiriman terlambat. Pengalaman customer menurun.
Akhirnya brand mendapatkan sesuatu yang selama ini dikejar: viral, tetapi kehilangan sesuatu yang jauh lebih penting: customer experience. Ini menunjukkan bahwa strategi TikTok tidak bisa berdiri sendiri. Konten harus terhubung dengan kemampuan bisnis untuk melayani perhatian yang datang. Kalau sebuah brand ingin TikTok menjadi channel bisnis, maka konten, marketing, customer service, produk, hingga operasional perlu saling mendukung.
Jadi, Bagaimana Seharusnya Brand Menggunakan TikTok?
Tidak ada satu formula yang berlaku untuk semua bisnis. Tetapi setidaknya brand perlu mulai melihat TikTok dengan tujuan yang lebih luas.
Jangan hanya bertanya berapa views yang bisa didapatkan dari sebuah video. Lihat juga apakah orang mulai mengenal brand, apakah mereka tertarik mengikuti akun, apakah mereka mulai bertanya tentang produk, apakah mereka mengunjungi profil, apakah mereka mencari brand di tempat lain, dan pada akhirnya apakah perhatian tersebut menghasilkan tindakan yang memiliki nilai bagi bisnis. Dengan cara pandang seperti ini, konten TikTok tidak lagi berdiri sebagai aktivitas media sosial yang terpisah dari bisnis. Konten menjadi bagian dari strategi.
Sebuah video mungkin bertugas memperkenalkan brand. Video berikutnya membangun trust. Video lainnya menjawab keberatan customer. Konten lain menunjukkan produk dan cara penggunaannya. Semuanya memiliki fungsi masing-masing dalam membawa audiens semakin dekat dengan brand. Jadi, tidak masalah kalau sebuah video tidak selalu viral. Yang lebih penting adalah apakah konten tersebut membantu bisnis bergerak ke arah yang benar.
Pada akhirnya, TikTok untuk bisnis bukan tentang membuat setiap video menjadi viral, tetapi tentang bagaimana perhatian yang datang dari TikTok bisa memberikan dampak terhadap tujuan bisnis.
Viral Itu Bagus, Tapi Jangan Berhenti di Viral
Pada akhirnya, tidak ada yang salah dengan mengejar viral. Viral bisa memberikan exposure besar, memperkenalkan brand kepada audiens baru, dan membuka peluang yang sebelumnya sulit didapatkan. Yang perlu diubah adalah cara kita melihat viral itu sendiri.
Viral bukan garis finish. Viral adalah pintu masuk.
Setelah perhatian datang, brand perlu punya sesuatu yang membuat orang mau mengenal lebih jauh. Setelah mereka mengenal, brand perlu membangun kepercayaan. Setelah kepercayaan muncul, barulah ada peluang untuk mengubah perhatian tersebut menjadi customer dan hubungan jangka panjang. Jadi kalau hari ini sebuah konten mendapatkan satu juta views, jangan hanya bertanya, “Wah, viral. Besok bikin apa lagi?” Coba tanyakan juga:
“Dari satu juta orang yang melihat ini, berapa banyak yang sekarang mengenal brand kita?”
“Berapa banyak yang mulai percaya?”
“Berapa banyak yang akhirnya tertarik dengan produk kita?”
Dan yang paling penting, “Apa yang terjadi setelah mereka menonton?”
Karena bagi brand, tujuan bermain di TikTok bukan sekadar membuat orang berhenti scrolling. Tujuannya adalah membuat perhatian tersebut memiliki arti bagi bisnis.
TikTok bisa menjadi tempat untuk viral. Tetapi dengan strategi yang tepat, TikTok juga bisa menjadi tempat brand membangun awareness, trust, customer, dan pertumbuhan bisnis.
Kalau kamu ingin memperdalam bagaimana TikTok bisa digunakan bukan sekadar untuk membuat konten, tetapi sebagai bagian dari strategi bisnis dan pemasaran, kamu bisa melihat program pembelajaran TikTok Digimaru di kelas Digimaru.
Ada satu kebiasaan yang cukup sering kita lihat ketika sebuah brand mulai bermain di TikTok. Begitu sebuah video mendapatkan banyak views, angka tersebut langsung dianggap sebagai tanda keberhasilan. Bahkan tidak sedikit pemilik bisnis yang mulai berpikir, “Kalau bisa viral seperti ini, pasti penjualan ikut naik.”
Wajar kalau views menjadi sesuatu yang menarik perhatian. Angka jutaan views memang terlihat mengesankan dan bisa membuat sebuah brand mendapatkan perhatian dalam waktu yang sangat singkat. Namun, ada satu pertanyaan yang sering terlupakan setelah sebuah konten berhasil mendapatkan perhatian besar: setelah viral, lalu apa?
Karena bagi sebuah bisnis, viral seharusnya bukan tujuan akhir.
TikTok memang bisa menjadi tempat sebuah brand mendapatkan perhatian yang sangat besar, tetapi perhatian saja belum cukup untuk membangun bisnis. Orang mungkin melihat video kita hari ini, tertawa, memberikan like, bahkan membagikannya kepada teman. Namun belum tentu mereka mengingat siapa brand di balik konten tersebut, belum tentu mereka percaya dengan produknya, dan belum tentu mereka akhirnya melakukan pembelian.
Di sinilah cara pandang terhadap TikTok perlu sedikit diubah. TikTok bukan hanya tempat mencari viral, tetapi juga bisa menjadi bagian dari perjalanan seseorang sebelum akhirnya menjadi customer.
Ketika Views Tidak Lagi Menjadi Satu-Satunya Ukuran
Bayangkan ada dua brand yang sama-sama membuat video di TikTok. Brand pertama mendapatkan satu juta views, tetapi setelah itu hampir tidak ada orang yang mencari produknya, mengikuti akun brand, atau melakukan pembelian. Brand kedua hanya mendapatkan seratus ribu views, tetapi banyak orang mulai mengenal brand tersebut, mengunjungi profilnya, bertanya tentang produk, dan akhirnya membeli. Mana yang lebih menguntungkan?
Kalau hanya melihat angka di layar, tentu satu juta views terlihat jauh lebih besar. Tetapi kalau melihatnya dari sudut pandang bisnis, jawabannya tidak sesederhana itu.
Karena views menunjukkan perhatian, bukan otomatis menunjukkan nilai bisnis.
Sebuah konten bisa mendapatkan perhatian karena lucu, kontroversial, relatable, atau kebetulan mengikuti tren yang sedang ramai. Masalahnya, perhatian tersebut belum tentu memiliki hubungan dengan produk yang kita jual.
Inilah mengapa brand perlu mulai melihat TikTok bukan hanya sebagai tempat untuk mendapatkan angka besar, tetapi sebagai media untuk membangun hubungan dengan audiens.
TikTok Bisa Menjadi Tempat Orang Pertama Kali Mengenal Brand
Salah satu kekuatan terbesar TikTok adalah kemampuannya memperkenalkan sebuah brand kepada orang yang sebelumnya bahkan belum mengenalnya.
Seseorang mungkin awalnya hanya sedang scrolling untuk mencari hiburan. Kemudian mereka menemukan sebuah video tentang produk, cerita di balik sebuah bisnis, pengalaman menggunakan produk, atau konten yang terasa begitu dekat dengan masalah mereka.
Mereka mungkin belum membeli.
Tetapi mereka mulai mengenal.
Besoknya mereka melihat konten brand yang sama lagi. Kali ini mereka mulai memperhatikan produknya. Beberapa hari kemudian mereka melihat orang lain membicarakan brand tersebut. Perlahan, nama brand mulai terasa familiar.
Proses seperti ini mungkin tidak terlihat langsung dalam angka penjualan pada hari yang sama, tetapi justru menjadi bagian penting dalam membangun brand awareness.
Karena sebelum seseorang membeli, biasanya ada proses mengenal terlebih dahulu.
Dari Attention Menuju Trust
Setelah mendapatkan perhatian, tantangan berikutnya adalah membuat audiens memiliki alasan untuk percaya.
Ini bagian yang sering dilewatkan oleh brand ketika membuat konten.
Mereka sibuk mengejar tren, mengejar views, dan mencari format yang berpotensi masuk For You Page, tetapi lupa menunjukkan mengapa seseorang harus mempercayai bisnis tersebut.
Padahal TikTok memberikan ruang yang cukup besar untuk membangun hal itu.
Brand bisa menunjukkan bagaimana produk dibuat, bagaimana sebuah bisnis bekerja, siapa orang-orang di baliknya, bagaimana produk digunakan customer, bagaimana sebuah masalah diselesaikan, sampai bagaimana brand merespons ketika menghadapi kesalahan.
Konten seperti ini mungkin tidak selalu menghasilkan angka views paling besar. Namun konten tersebut bisa memberikan sesuatu yang jauh lebih penting: alasan bagi audiens untuk percaya.
Dan ketika trust mulai terbentuk, hubungan antara audiens dengan brand mulai berubah. Mereka bukan lagi sekadar orang yang melihat video. Mereka mulai menjadi orang yang mempertimbangkan brand tersebut ketika membutuhkan sebuah produk atau layanan.
Konten yang Bagus Tidak Harus Selalu Menjual
Ada anggapan bahwa kalau sebuah brand sudah masuk TikTok, setiap konten harus berakhir dengan ajakan membeli.
Padahal tidak semua konten harus menjual secara langsung.
Bayangkan sebuah brand fashion yang setiap hari hanya membuat video dengan pesan, “Beli sekarang, stok terbatas.” Mungkin sesekali berhasil, tetapi jika seluruh isi akun hanya berisi promosi, audiens bisa cepat merasa sedang melihat katalog berjalan.
Bandingkan dengan brand yang sesekali menunjukkan bagaimana produknya dibuat, membahas masalah yang sering dialami customer, memberikan edukasi, membagikan cerita di balik bisnis, menunjukkan proses kerja tim, atau bahkan membuat konten yang membuat audiens merasa, “Ini gue banget.”
Konten seperti itu mungkin tidak selalu langsung menghasilkan transaksi.
Tetapi konten tersebut membantu membangun reason to follow.
Orang punya alasan untuk tetap mengikuti akun tersebut meskipun mereka belum membeli hari ini.
Dan ketika suatu hari mereka membutuhkan produk yang ditawarkan, brand tersebut sudah lebih dulu berada di dalam ingatan mereka.
TikTok dan Customer Journey
Kalau kita melihat TikTok hanya sebagai tempat mendapatkan views, perjalanan customer akan terlihat sangat pendek.
Orang melihat video, lalu kita berharap mereka langsung membeli.
Padahal perjalanan customer biasanya jauh lebih panjang.
Seseorang bisa pertama kali mengenal brand melalui sebuah video. Kemudian mereka melihat profilnya, membaca komentar, mencari video lain, melihat bagaimana customer lain menggunakan produknya, lalu membandingkannya dengan pilihan lain.
Setelah merasa cukup yakin, barulah mereka melakukan pembelian.
Artinya, TikTok bisa memainkan beberapa peran sekaligus dalam perjalanan tersebut.
Awareness ketika orang pertama kali mengenal brand.
Consideration ketika mereka mulai mencari tahu lebih banyak.
Trust ketika mereka melihat bukti, pengalaman, dan konsistensi brand.
Kemudian action ketika mereka akhirnya melakukan pembelian atau mengambil langkah berikutnya.
Karena itu, strategi TikTok yang baik tidak berhenti pada pertanyaan, “Bagaimana supaya video ini viral?”
Pertanyaannya perlu berkembang menjadi, “Setelah orang melihat video ini, kita ingin mereka melakukan apa?”
Kalau kamu sedang membangun strategi digital secara lebih menyeluruh, TikTok juga sebaiknya tidak dipandang sebagai channel yang berdiri sendiri. Ia perlu menjadi bagian dari strategi bisnis dan marketing yang menghubungkan konten, brand, customer, hingga penjualan.
Untuk melihat bagaimana ekosistem pembelajaran dan strategi bisnis Digimaru dibangun, kamu bisa mengenal lebih lanjut Digimaru.
Kesalahan Brand: Mengejar Viral Tanpa Menyiapkan Bisnis
Ada satu hal yang sering luput ketika sebuah konten tiba-tiba viral.
Traffic bisa meningkat dengan sangat cepat.
Orang mulai masuk ke profil. Pertanyaan di kolom komentar bertambah. Pesan masuk meningkat. Bahkan permintaan produk bisa datang jauh lebih banyak daripada biasanya.
Kalau bisnis tidak siap, viral justru bisa menjadi masalah baru.
Customer menunggu terlalu lama. Stok tidak tersedia. Admin kewalahan menjawab pesan. Pengiriman terlambat. Pengalaman customer menurun.
Akhirnya brand mendapatkan sesuatu yang selama ini dikejar: viral, tetapi kehilangan sesuatu yang jauh lebih penting: customer experience.
Ini menunjukkan bahwa strategi TikTok tidak bisa berdiri sendiri.
Konten harus terhubung dengan kemampuan bisnis untuk melayani perhatian yang datang.
Kalau sebuah brand ingin TikTok menjadi channel bisnis, maka konten, marketing, customer service, produk, hingga operasional perlu saling mendukung.
Jadi, Bagaimana Seharusnya Brand Menggunakan TikTok?
Tidak ada satu formula yang berlaku untuk semua bisnis. Tetapi setidaknya brand perlu mulai melihat TikTok dengan tujuan yang lebih luas.
Jangan hanya bertanya berapa views yang bisa didapatkan dari sebuah video. Lihat juga apakah orang mulai mengenal brand, apakah mereka tertarik mengikuti akun, apakah mereka mulai bertanya tentang produk, apakah mereka mengunjungi profil, apakah mereka mencari brand di tempat lain, dan pada akhirnya apakah perhatian tersebut menghasilkan tindakan yang memiliki nilai bagi bisnis.
Dengan cara pandang seperti ini, konten TikTok tidak lagi berdiri sebagai aktivitas media sosial yang terpisah dari bisnis.
Konten menjadi bagian dari strategi.
Sebuah video mungkin bertugas memperkenalkan brand. Video berikutnya membangun trust. Video lainnya menjawab keberatan customer. Konten lain menunjukkan produk dan cara penggunaannya. Semuanya memiliki fungsi masing-masing dalam membawa audiens semakin dekat dengan brand.
Jadi, tidak masalah kalau sebuah video tidak selalu viral.
Yang lebih penting adalah apakah konten tersebut membantu bisnis bergerak ke arah yang benar.
Viral Itu Bagus, Tapi Jangan Berhenti di Viral
Pada akhirnya, tidak ada yang salah dengan mengejar viral.
Viral bisa memberikan exposure besar, memperkenalkan brand kepada audiens baru, dan membuka peluang yang sebelumnya sulit didapatkan.
Yang perlu diubah adalah cara kita melihat viral itu sendiri.
Viral bukan garis finish. Viral adalah pintu masuk.
Setelah perhatian datang, brand perlu punya sesuatu yang membuat orang mau mengenal lebih jauh. Setelah mereka mengenal, brand perlu membangun kepercayaan. Setelah kepercayaan muncul, barulah ada peluang untuk mengubah perhatian tersebut menjadi customer dan hubungan jangka panjang.
Jadi kalau hari ini sebuah konten mendapatkan satu juta views, jangan hanya bertanya, “Wah, viral. Besok bikin apa lagi?”
Coba tanyakan juga:
“Dari satu juta orang yang melihat ini, berapa banyak yang sekarang mengenal brand kita?”
“Berapa banyak yang mulai percaya?”
“Berapa banyak yang akhirnya tertarik dengan produk kita?”
Dan yang paling penting, “Apa yang terjadi setelah mereka menonton?”
Karena bagi brand, tujuan bermain di TikTok bukan sekadar membuat orang berhenti scrolling.
Tujuannya adalah membuat perhatian tersebut memiliki arti bagi bisnis.
TikTok bisa menjadi tempat untuk viral. Tetapi dengan strategi yang tepat, TikTok juga bisa menjadi tempat brand membangun awareness, trust, customer, dan pertumbuhan bisnis.
Kalau kamu ingin memperdalam bagaimana TikTok bisa digunakan bukan sekadar untuk membuat konten, tetapi sebagai bagian dari strategi bisnis dan pemasaran, kamu bisa melihat program pembelajaran Digimaru di kelas Digimaru.
