Marketplace bisa menjadi tempat yang sangat efektif untuk mendapatkan traffic dan penjualan. Tapi kalau sebagian besar bisnis hanya bergantung pada satu platform, apa yang terjadi ketika platform tersebut berubah?

Bayangkan suatu pagi kamu membuka toko online seperti biasa. Produk masih ada, stok masih tersedia, tim masih bekerja, dan customer masih membutuhkan produkmu. Tapi ada satu masalah: ketergantungan marketplace membuat sebagian besar penjualan bisnis bergantung pada satu channel.
Ketika channel tersebut mengalami perubahan, pertanyaannya bukan lagi apakah produkmu bagus atau tidak. Pertanyaannya jauh lebih sederhana: kalau satu marketplace tidak bisa digunakan besok, apakah bisnis kamu masih punya cara lain untuk bertemu dengan customer?
Pertanyaan inilah yang menjadi pembuka pembahasan dalam episode CEO Bisnis Online, “Kalau Besok Shopee Hilang, Bisnis Kamu Masih Jalan?”
Sekilas, pertanyaannya terdengar ekstrem. Shopee adalah salah satu marketplace besar yang sudah menjadi bagian dari kebiasaan belanja online banyak orang. Namun, justru karena sebuah platform begitu nyaman digunakan, pemilik bisnis bisa tanpa sadar membangun bisnis yang terlalu bergantung kepadanya. Dan di situlah persoalannya.
Marketplace Memang Membantu Bisnis Tumbuh
Tidak ada yang salah dengan berjualan di marketplace. Justru sebaliknya, marketplace memberikan banyak hal yang sulit dibangun sendiri oleh sebuah bisnis dari nol: traffic, customer, sistem transaksi, hingga infrastruktur yang membuat proses jual beli menjadi lebih mudah.
Bagi banyak seller, marketplace bahkan menjadi pintu pertama untuk mendapatkan pembeli. Tidak perlu membangun website dari awal, tidak harus mendatangkan semua traffic sendiri, dan tidak perlu membuat seluruh sistem transaksi dari nol. Itulah kenapa marketplace menjadi sangat menarik.
Masalahnya muncul ketika marketplace bukan lagi salah satu channel penjualan, tetapi menjadi satu-satunya tempat bisnis mendapatkan penjualan.
Ketika itu terjadi, pertumbuhan bisnis mulai ikut bergantung pada keputusan dan kondisi platform tersebut. Perubahan algoritma, kebijakan, biaya, hingga perubahan perilaku konsumen dapat ikut memengaruhi bagaimana bisnis mendapatkan customer. Poin tentang risiko ketergantungan pada perubahan algoritma, kebijakan, biaya, dan perilaku konsumen juga menjadi bagian dari pembahasan yang dipublikasikan Digimaru terkait episode ini. Jadi persoalannya bukan “jangan jualan di marketplace.” Persoalannya adalah: “Apakah seluruh bisnis kamu hidup dari marketplace?”
Ketergantungan Marketplace Bisa Membuat Bisnis Kehilangan Kendali
Ada perbedaan besar antara menggunakan platform dan bergantung pada platform. Ketika marketplace digunakan sebagai salah satu channel, bisnis masih punya ruang untuk bergerak. Customer bisa datang dari marketplace, tetapi juga dari media sosial, website, komunitas, referral, database pelanggan, atau channel lainnya.
Sebaliknya, ketika hampir seluruh penjualan berasal dari satu marketplace, platform tersebut secara tidak langsung menjadi pintu utama bisnis menuju customer. Traffic datang dari sana. Transaksi terjadi di sana. Interaksi terjadi di sana. Bahkan dalam beberapa kasus, hubungan dengan customer pun berhenti di sana. Akibatnya, ketika performa channel tersebut berubah, bisnis ikut merasakan dampaknya.
Inilah kenapa pertanyaan “Kalau besok Shopee hilang, bisnis kamu masih jalan?” sebenarnya bukan pertanyaan tentang Shopee. Ini adalah pertanyaan tentang seberapa kuat fondasi bisnis yang kamu bangun di luar marketplace.
Customer Jangan Hanya Berhenti sebagai Angka Pesanan
Salah satu aset yang sering terlupakan ketika bisnis terlalu fokus pada transaksi adalah customer itu sendiri. Seller bisa sangat hafal jumlah order hari ini, omzet minggu ini, bahkan produk mana yang paling laku. Tetapi setelah transaksi selesai, apakah bisnis benar-benar punya cara untuk membangun hubungan berikutnya dengan customer?
Di sinilah database pelanggan menjadi penting. Customer yang pernah membeli bukan sekadar angka di dashboard marketplace. Mereka adalah orang yang sudah mengenal produk, pernah mengalami proses pembelian, dan memiliki pengalaman terhadap brand. Tentu, membangun database pelanggan harus dilakukan dengan cara yang sesuai dengan aturan platform dan perlindungan data yang berlaku. Tetapi secara strategi bisnis, pemilik brand perlu memikirkan bagaimana hubungan dengan customer bisa terus dibangun melalui aset yang memang dimiliki dan dikelola bisnis. Karena tujuan akhirnya bukan sekadar: “Bagaimana mendapatkan satu transaksi?” Tetapi: “Bagaimana supaya customer punya alasan untuk kembali?” Ini juga yang membuat brand menjadi penting.
Ketika customer hanya mengenal sebuah toko sebagai “seller di marketplace”, hubungan bisnis akan sangat bergantung pada tempat mereka menemukan seller tersebut. Tetapi ketika customer mulai mengenal nama brand, alasan memilih produknya, kualitasnya, dan pengalaman yang diberikan, hubungan tersebut mulai memiliki fondasi yang lebih kuat.
Bisnis yang Lebih Siap Bukan Berarti Punya Banyak Marketplace
Mendengar soal diversifikasi channel, respons yang sering muncul adalah: berarti harus buka toko di mana-mana. Belum tentu. Diversifikasi bukan sekadar memiliki akun di banyak platform. Kalau semua channel tetap bergantung pada pola yang sama—mengandalkan traffic platform tanpa membangun aset sendiri—bisnis sebenarnya hanya memindahkan ketergantungan dari satu tempat ke tempat lain.
Yang perlu dibangun adalah ekosistem bisnis.
Marketplace bisa berfungsi sebagai salah satu channel transaksi. Social media bisa menjadi tempat membangun awareness dan engagement. Website bisa menjadi salah satu aset digital brand. Komunitas bisa menjadi ruang membangun hubungan. Database pelanggan dapat membantu bisnis menjaga komunikasi setelah transaksi. Masing-masing punya peran yang berbeda.
Karena itu, tujuan akhirnya bukan membuat marketplace menjadi tidak penting. Justru marketplace tetap bisa menjadi channel yang sangat penting untuk penjualan. Tetapi bisnis tidak boleh kehilangan kemampuan untuk berjalan ketika salah satu channel mengalami perubahan.
Digimaru sendiri dalam pembahasan episode ini menekankan pentingnya membangun aset dan saluran sendiri, mulai dari database pelanggan, brand, komunitas, website, hingga diversifikasi channel penjualan.
Coba Lakukan “Tes Shopee Hilang” pada Bisnismu
Sekarang coba bayangkan skenario sederhana. Besok marketplace utama yang selama ini menyumbang sebagian besar omzetmu tidak bisa digunakan. Bukan berarti benar-benar akan terjadi. Anggap saja ini sebagai simulasi. Dari mana customer datang?
Kalau jawabannya adalah, “Saya tidak tahu,” mungkin ini waktunya melihat kembali struktur bisnis. Apakah customer hanya mengenal toko melalui marketplace? Apakah brand punya social media yang benar-benar aktif? Apakah bisnis punya website atau aset digital lain? Apakah ada komunitas yang bisa menjadi bagian dari ekosistem brand? Apakah bisnis memiliki cara yang sesuai aturan untuk membangun hubungan dengan customer setelah transaksi? Apakah ada channel penjualan lain yang sudah berjalan, bukan baru akan dibuat ketika channel utama bermasalah?
Dan yang paling penting: Kalau traffic marketplace turun drastis, apakah bisnis masih punya kemampuan untuk mendatangkan customer sendiri? Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar bertanya marketplace mana yang sedang ramai hari ini.
Jangan Bangun Bisnis yang Hanya Besar di Satu Platform
Marketplace adalah alat. Dan seperti alat lainnya, kita perlu tahu bagaimana menggunakannya tanpa membuat seluruh bisnis kehilangan kemampuan untuk berdiri sendiri. Bisnis yang sehat bukan berarti tidak menggunakan marketplace. Bisnis yang sehat justru bisa memanfaatkan marketplace secara maksimal sambil tetap membangun aset lain di luar platform tersebut. Karena pada akhirnya, yang ingin dibangun bukan sekadar toko yang ramai di marketplace. Yang ingin dibangun adalah brand dan bisnis yang tetap punya nilai ketika satu channel berubah.
Jadi, kalau besok Shopee hilang, mungkin pertanyaan yang paling penting bukan: “Saya harus jualan di mana?” Tetapi: “Apa yang sebenarnya sudah saya bangun selain toko saya di marketplace?”
Kalau jawabannya adalah brand, customer, komunitas, database, website, dan beberapa channel penjualan yang saling terhubung, berarti bisnis tidak hanya sedang mengejar transaksi. Bisnis sedang membangun fondasi.
Bisnis online bukan cuma soal bagaimana mendapatkan penjualan hari ini, tapi bagaimana membangun bisnis yang tetap punya nilai ketika kondisi platform berubah.
Kalau kamu ingin belajar lebih jauh tentang strategi membangun bisnis online, branding, dan channel digital yang lebih terarah, pelajari program Digimaru selengkapnya.
